Haji Agus Salim lahir di Koto Gadang, Bukittinggi, Minangkabau. Beliau menempuh pendidikannya di ELS (Europeese Lagere School) dan HBS di Jakarta. Agus Salim terkenal sebagai orang yang cerdas dan pandai, beliau menguasai sembilan bahasa asing, di antaranya Belanda, Inggris, Jerman, Perancis, Arab, Turki dan Jepang. Pada waktu muda beliau merantau sampai ke Arab Saudi untuk memperkaya pemikiran dan ilmunya.

Pada tahun 1915, beliau bergabung dengan Sarekat Islam (SI), dan menjadi pemimpin kedua di SI setelah H.O.S. Tjokroaminoto.

Peran Agus Salim pada masa perjuangan kemerdekaan RI antara lain:

  • anggota Volksraad (1921-1924)
  • anggota panitia 9 BPUPKI yang mempersiapkan UUD 1945
  • Menteri Muda Luar Negeri Kabinet Sjahrir II 1946 dan Kabinet III 1947
  • pembukaan hubungan diplomatik Indonesia dengan negara-negara Arab, terutama Mesir pada tahun 1947
  • Menteri Luar Negeri Kabinet Amir Sjarifuddin 1947
  • Menteri Luar Negeri Kabinet Hatta 1948-1949

Beliau menjabat sebagai Menteri Luar Negeri pada periode 3 Juli 1947 – 20 Desember 1949. Beliau merupakan salah satu diplomat ulung Indonesia yang dikenal sering mewakili Indonesia di berbagai konferensi dan pertemuan Internasional.

Tokoh cemerlang dalam pergolakan politik Indonesia, sehingga kerap kali digelari “Orang Tua Besar” ini wafat pada 4 November 1954 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Setelah melihat sekilas mengenai latar belakang dan karir politiknya, bahwa beliau adalah sosok yang patut dicontoh karena meskipun beliau cerdas dan sosoknya telah dikenal di kalangan masyarakat Internasional, beliau tetap santun, sholeh dan idealis serta kegigihannya dalm melakukan sesuatu. Mekipun telah banyak ilmu yang beliau dapatkan tetapi, beliau tetap haus akan ilmu dan ingin terus menggali ilmu dengan lebih dalam. Bahkan ilmu yang telah beliau dapatkan pun, tak lupa beliau amalkan di Cornell University dan Princenton University, Amerika Serikat, sebagai dosen agama Islam. Selain ilmunya, beliau pun telah berkontribusu banyak bagi negara kita, khususnya pada masa perjuangan kemerdkaan RI. Sesuai pepatah “padi makin berisi makin merunduk” begitulah gambaran H.Agus Salim.

Ketika saya kelas XI SMA, saya malas sekali untuk belajar, ditambah teman-teman satu kelas saya aktif semua. Tentu saja itu memberikan peluang yang sangat besar bagi saya untuk mandapatkan nilai jelek. Hal itu terbukti ketika pembagian rapor semester I, rangking saya turun derastis. Ketika mengetahui itu, saya merasa kesal dan berjanji di semester II rangking saya harus naik lagi, minimal sama seperti waktu kelas X. karena niat dan tekad saya, setiap tugas saya kerjakan dengan sungguh-sungguh, aktif di kelas pun jadi makanan sehari-hari. Dikit-dikit ngangkat tangan, nanyalah atau menjawab pertanyaan. Dan tak lupa berdoa.

Setelah satu semester saya lalui, ketika pembagian rapor sedang dilaksanakan, wali kelas mengumumkan murid-murid yang mendapat rangking sepuluh besar. Saya diumumkan mendapat rangking selisih satu dari target minimal saya. Saya sempat kecewa tapi akhirnya saya ikhlaskan, karena walaupun tidak sesuai target, setidaknya rangking saya sudah naik dari semester I. Tapi tanpa disangka, ditengah-tengah pembagian rapor, wali kelas salah mengucapkan rangking, dan Alhamdulillah ternyata rangking saya yang wali kelas sebutkan salah, akhirnya rangking saya ternyata sesuai dengan target yang saya harapkan.

Jadi, ketika kalian mengharapkan sesuatu, lakukankah dengan sungguh-sungguh disertai niat dan jangan lupa berdoa.

REPUBLIKA.CO.ID, BENGKAYANG–Kerajinan tangan berupa bidai, asli buatan masyarakat Dayak dari Kecamatan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, terancam bakal diklaim sebagai produk dari Malaysia jika tidak segera dipatenkan. Kekhawatiran itu diungkapkan Wakil Bupati Bengkayang, Suryadman Gidot, di Bengkayang, Rabu (21/7).

Ia mengatakan, dengan kemajuan teknologi yang dimiliki Malaysia, maka kerajinan asli dari masyarakat Dayak di kawasan perbatasan Indonesia – Malaysia itu sudah dikembangkan di negara tersebut. “Padahal kerajinan bidai itu hanya ada di Seluas, Jagoi dan Siding. Ini adalah aset daerah kita,” kata Gidot.

Bidai merupakan kerajinan tangan terbuat dari rotan, yang hasilnya berupa tikar, tas, dan lain sebagainya. Masyarakat perbatasan menjual produk itu ke wilayah Serikin (Malaysia).

Bidai dijual mulai dari harga Rp150 ribu hingga Rp600 ribu, tergantung motif dan bentuknya. Masyarakat memilih menjual ke Serikin karena secara ekonomi jaraknya cukup dekat dengan Kecamatan Jagoi Babang yang merupakan titik nol perbatasan Indonesia – Malaysia di wilayah Kabupaten Bengkayang.

Masyarakat Dayak pada umumnya menjual bidai masih dalam bentuk sederhana, apa adanya dan belum mendapatkan sentuhan teknologi. Kondisi itu ternyata menjadi kesempatan bagi Malaysia memperbaiki dengan kualitas lebih baik kemudian dijual lagi kepada pihak lain.

Wakil Bupati Bengkayang mengatakan sudah menjadi rahasia umum kalau kerajinan bidai yang masuk ke Malaysia itu sudah berubah dan mereka jual kembali. Padahal, kata Gidot, barang tersebut berasal dari Jagoi Babang.

Ia mengaku telah meminta kepada Dinas Perindustrian dan Perdagangan setempat agar melakukan koordinasi dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kalbar terkait masalah ini. “Pemkab Bengkayang sendiri terus berupaya melakukan pembinaan melalui Disperindag. Salah satunya memberikan perhatian kepada para pengrajin,” katanya.

Pembinaan itu, misalnya dalam bentuk modal melalui perbankan. Gidot menyatakan tak ingin kerjinan bidai kelak hanya tinggal nama dan sejarah.